Hadapi Covid-19, Minimnya Peran Saintis Sebagai Pencerah di Medsos

Ismail Fahmi, Founder Media kernels, Co-founder Awesometrics, serta Team Leader Weborama, menilai narasi utama percakapan tentang Covid-19 dan pemerintah lebih banyak diwarnai narasi nonsaintis dan nonahli. Foto: Jos
Ismail Fahmi, Founder Media kernels, Co-founder Awesometrics, serta Team Leader Weborama, menilai narasi utama percakapan tentang Covid-19 dan pemerintah lebih banyak diwarnai narasi nonsaintis dan nonahli. Foto: Jos

sehatnews.id – Kehadiran saintis dan ahli kesehatan terasa vital dan mendesak di tengah pandemi Covid-19, untuk memberikan informasi yang benar berdasarkan data, analisis, serta memberikan saran yang tepat kepada pemerintah dan masyarakat, terutama lewat media sosial (medsos).

Pasalnya, media sosial merupakan sarana paling luas dipakai oleh masyarakat untuk menyampaikan pikiran hingga mencari jawaban atas berbagai persoalan yang tengah mereka hadapi.

Masalahnya, di media sosial, mayoritas orang leluasa berpendapat, menyajikan data yang tidak valid, tidak terverifikasi, hoaks, hingga konspirasi teori yang bertujuan mempengaruhi jalan pikiran masyarakat.

Bahkan saat ini media sosial di tanah air telah menjadi ajang ‘tawuran’ antara dua kubu berseberangan, pemerintah yang tengah berkuasa dengan pihak oposisi, mengenai apa saja, dan kini yang tengah menjadi tren adalah masalah pandemi Covid-19.

Di tengah kondisi seperti ini seharusnya saintis dan ahli kesehatan hadir sebagai pencerah serta memberikan panduan berdasarkan data yang valid, analisis, dan menawarkan solusi yang tepat berdasarkan ilmu pengetahuan yang dikuasainya.

Sayangnya, di Indonesia, masih minim saintis dan ahli kesehatan yang akrab dengan media sosial serta minim skill untuk menyajikan data dengan gaya story telling yang menarik dan mudah dipahami awam.

Semua rangkaian pemaparan tersebut disampaikan oleh Ismail Fahmi, Founder Media Kernels, Co-Founder Awesometrics, serta Team Leader Weborama, yang menjadi narasumber dalam Webinar bertema “Peran Scientist dalam Perang Melawan Covid-19” yang digelar IABIE (Ikatan Alumni Program Habibie), beberapa waktu lalu.

Akibatnya informasi media sosial dikuasai para buzzer, influencer, sampai penganut teori konspirasi yang bertujuan mempengaruhi pikiran masyarakat terkait masalah Covid-19.

“Mereka juga menyajikan pemikiran mereka dengan story telling seperti testimoni, narasi, video, hingga infografis yang bagus sehingga banyak orang tertarik dan terpengaruh, tak peduli apa yang mereka sajikan bisa dipertanggungjawabkan atau tidak,” tutur pencipta aplikasi Drone Emprit, sebuah sistem analisis sosial media berbasis big data, ini.