Komunitas Gowes Kuy Lebih Segar Meski Pandemi

Banyak track gowes yang aduhai (menantang), seperti menyusuri gang-gang sempit, melintasi kuburan, kebun, tepian danau, kolong jalan tol, juga menyeberangi rel kereta. “Pokoknya blusukan lewat jalur-jalur kampung, kadang ada yang jatuh, sering nyasar juga. Penuh tantangan tapi seru,” tambah Yosi. Jarak yang mereka tempuh pun meningkat, hingga lebih dari 30 km.

Bapak-bapak ikut bergabung, jadi tambah seru. | foto: dok. gowes kuy
Bapak-bapak ikut bergabung, jadi tambah seru. | foto: dok. gowes kuy

Terasa Manfaatnya

Komunitas ini sudah mulai gowes sebelum ada wabah Covid-19. Pada awal masa pandemi, mereka sempat berhenti. Ketika kondisi tampak membaik, barulah mereka aktif gowes lagi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Menjelang masa normal baru, kelompok ini bahkan ambil bagian dalam event “Gowes Bareng, Gowes to the New Normal”, yang menempuh rute Vila Dago, Pamulang – Danau Cisawang, Gunung Sindur, Bogor.

Ikut event 'Gowes to New Normal' ke Danau Cisawang, Gunung Sindur, Bogor. | foto: dok. gowes kuy
Ikut event ‘Gowes to New Normal’ ke Danau Cisawang, Gunung Sindur, Bogor. | foto: dok. gowes kuy

Menurut Yosi komunitas ini sangat cair. Tidak ada aturan khusus bagi siapa saja yang mau bergabung. Yang penting punya sepeda dan bisa naik sepeda. “Kalau hari Sabtu yang bisa gowes misalnya cuma dua orang, ya tetap jalan, gak harus semua ready. Namanya emak-emak kan ada aja urusannya, jadi sebisanya lah,” ujarnya.

Aktivitas bersepeda ini dirasakan betul manfaatnya. Mesa mengaku badan terasa lebih enak, paha lebih kencang, dan stres berkurang. “Terasa sehat aja. Kalau lama gak gowes kayaknya badan jadi cepat melar,” ucap ibu tiga putri yang bekerja di SMAN 11 Tangerang Selatan ini.

Yosi juga mengaku lebih sehat setelah rutin gowes. Ia merasa tidak gampang lelah, dan lebih nyenyak tidur. “Di masa pandemi kan harus banyak di rumah, jadi pas Sabtu pagi bisa gowes sambil menikmati udara segar, rasanya refresh banget,” akunya. (rin)