Jangan Andalkan Baby Walker Saat Anak Belajar Jalan

Baby walker lebih berisiko menimbulkan cedera. | foto:freepik.com
Baby walker lebih berisiko menimbulkan cedera. | foto:freepik.com

sehatnews.id-Menjelang usia satu tahun si kecil biasanya mulai belajar berjalan. Tak sedikit orang tua yang kemudian membeli baby walker. Bahkan, ada yang sudah menggunakan baby walker lebih dini. Alasannya, biar si kecil lebih cepat bisa berjalan. Padahal faktanya banyak hal negatif terjadi akibat penggunaan baby walker.

Menurut studi yang dirilis jurnal Pediatric, antara tahun 1990-2014 di Amerika Serikat lebih dari 230 ribu anak usia kurang dari 15 bulan dirawat di IGD, karena kecelakaan terkait penggunaan baby walker. Kebanyakan cedera di kepala dan leher, dari luka ringan hingga luka serius.

Begitu besarnya risiko cedera pada bayi, sehingga pemerintah Kanada melarang penggunaan baby walker sejak 2004. Dalam situs Health Canada, dijelaskan bahwa terjatuh dari tangga menjadi penyebab terbesar cedera kepala pada anak usia kurang dari dua tahun. Bayi lebih mudah terjatuh dan cedera, karena dengan baby walker bisa bergerak lebih cepat, bergerak ke tempat berbahaya, terbalik, tercemplung kolam, menabrak mebel, menarik tali, menarik taplak meja dan menumpahkan teh atau kopi panas, atau keracunan karena meraih obat-obatan dan menelannya.

American Academy of Pediatrics (AAP) dalam Healthy Children juga menyebutkan bahwa saat menggunakan baby walker, bayi bisa terguling dari tangga. Kejadian ini kerap menimbulkan patah tulang dan cedera kepala berat, yang juga menjadi insiden paling sering terkait penggunaan baby walker.

Alih-alih membuat anak bisa cepat jalan, penggunaan baby walker justru memperlambat. Benjamin Spock, MD, dalam bukunya DR. Spock’s Baby and Child Care, 9th Edition menegaskan bahwa baby walker menghambat bayi belajar berjalan, karena mereka tidak belajar keseimbangan. Padahal kemampuan keseimbangan dibutuhkan bayi untuk bisa berjalan. Baby walker juga membuat bayi kurang termotivasi untuk belajar berjalan.

Akan lebih aman jika anak dibiarkan bermain di lantai cukup luas dan bebas bahaya. Anak perlu belajar berguling, merangkak, duduk, dan pelan-pelan belajar berdiri, merambat untuk mencapai perkembangan alami sesuai usianya.

Boks juga menjadi tempat yang lebih baik untuk anak belajar berjalan. Lapisi boks dengan busa supaya empuk, sehingga cukup aman kalau anak terbentur. Orang tua harus kuat menyaksikan anak berulang kali jatuh-bangun ketika belajar berjalan, sepanjang tidak membahayakan anak. Jangan sering-sering dibantu.

Menuntun anak atau titah saat belajar berjalan lebih dianjurkan ketimbang mengandalkan baby walker. Cara ini lebih memotivasi anak dan menguatkan ikatan antara orang tua dan anak. Menuntun bukan memegang tangan anak tetapi bagian bawah ketiak, agar anak dapat mengembangkan daya keseimbangan tubuh dan belajar jalan secara alami. (dys/rin)