Meski Pandemi Imunisasi Tak Boleh Berhenti

Meski Pandemi Imunisasi Tak Boleh Berhenti. | foto: freepik.com
Meski Pandemi Imunisasi Tak Boleh Berhenti. | foto: freepik.com

sehatnews.id-Imunisasi adalah hak dasar anak untuk mendapat perlindungan kesehatan. Untuk itu, jadwal imunisasi mesti ditepati meski saat ini masih dihadang pandemi.

Pandemi Covid-19 sudah berjalan lebih dari setahun. Tanda-tanda berakhirnya pandemi ini masih belum jelas. Meski demikian, upaya menjaga dan melindungi kesehatan anak, tetap harus dijalankan. Selain dengan menerapkan prosedur kesehatan 5M, hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah dengan tetap melakukan vaksinasi rutin bagi anak sesuai jadwal dan yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Cakupan Imunisasi Turun
Di awal pandemi Covid-19, banyak orang tua yang merasa ragu dan khawatir untuk membawa bayi atau anak-anaknya ke rumah sakit terkait jadwal imunisasi. Kekhawatiran ini masih dirasakan hingga sekarang. Wajar saja, mengingat virus corona ini tergolong cepat menginfeksi, dan anak-anak termasuk kelompok rentan.

Menurut Henrietta Fore, Direktur Eksekutif Unicef, “Saat pandemi berlangsung, layanan perlindungan terhadap keselamatan manusia, termasuk imunisasi, cenderung akan mengalami gangguan, terutama di Afrika, Asia, dan Timur Tengah, tempat yang paling membutuhkan.

Sementara anak-anak dari keluarga miskin di negara konflik atau terdampak bencana alam, memiliki risiko paling tinggi.” Negara-negara yang disebutkan itu, lanjut Henrietta, seperti dikutip dari laman Unicef, di masa pandemi ini akan menghadapi tambahan wabah dari penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi.

Hal senada juga diutarakan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Prof. DR. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K). Dalam cuitannya di akun twitter IDAI, Prof. Aman mengatakan, “Pada saat pandemi ini, cakupan imunisasi kita menurun, Untuk mengatasi pandemi ini, segera cukupkan imunisasi pada anak dengan imunisasi kejar serta bulan imunisasi anak sekolah.”

Jangan Dilewatkan
Imunisasi, ditegaskan Prof. Aman, adalah suatu keharusan. Imunisasi tidak boleh dilewatkan untuk mencegah kemungkinan anak mengalami penyakit yang lebih berat.

Karenanya, orang tua tetap harus membawa anak-anaknya ke rumah sakit atau dokter untuk dilakukan imunisasi. “Jangan sampai, lanjut dr. Arifianto, Sp.A(K), champion Imunisasi IDAI seperti cuitannya di akun IDAI, pandemi Covid-19 menyebabkan pandemi lainnya. Jangan sampai terjadi pandemi difteri, campak, dan penyakit-penyakit anak lainnya yang bisa dicegah dengan imunisasi. Pastikan imunisasi anak-anak Anda lengkap, meskipun pendemi belum berakhir.”

Hal senada juga ditekankan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan American Academy of Pediatric (AAP). Kedua lembaga ini merekomendasikan untuk tidak melewatkan vaksinasi selama pandemi Covid-19.

Prokes Ketat
Terkait kekhawatiran untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan, Dr. Sjawitri P. Siregar, Sp.A(K), konsultan alergi imunologi anak dalam video Instagram IDAI mengatakan bahwa protokol kesehatan di rumah sakit sudah diterapkan. Sejumlah rumah sakit juga sudah membatasi jadwal praktik dokter, pun pasien yang sudah membuat perjanjian, harus datang tepat waktu.

Prosedur kesehatan ketat di sejumlah rumah sakit, terkait covid-19 bisa terlihat dari sejumlah aspek. Misalnya saja dengan melakukan pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk rumah sakit. Bila kedapatan suhu tubuh pengunjung merujuk pada kondisi demam, apalagi ada gejala batuk maupun pilek, mereka akan diarahkan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Petugas yang melakukan pemeriksaan pun tak bosan-bosan menanyakan kondisi Anda saat itu seperti, apakah sedang batuk atau pilek. Lalu ditanyakan pula kondisi Anda dalam dua minggu terakhir, apakah bepergian ke luar kota atau pernah terinfeksi Covid-19 atau tidak.
Saat sudah di ruang dokter pun, suster akan menanyakan riwayat kesehatan dalam beberapa hari terakhir.

Kalaupun anak mengalami sakit, biasanya akan dialihkan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Pasien dengan demam disertai batuk dan pilek,meski ditangani di IGD, namun akan ditempatkan di area yang berbeda. Dengan kata lain, anak-anak yang akan melakukan vaksinasi harus benar-benar sehat, dan anak-anak maupun bayi yang datang ke tempat praktik dokter di rumah sakit ada dalam kondisi sehat, tidak ada gejala yang merujuk pada covid-19.

Lakukan Imunisasi Kejar
“Kalau imunisasi anak terlambat selama pandemi, bawa serta buku imunisasi anak saat ke dokter. Dokter akan melihat imunisasi yang harus dikejar, sehingga dalam sekali kunjungan, bisa jadi dokter menjadwalkan dua atau tiga suntikan. Efek imunologisnya sama, antibodi yang terjadi juga sama,” terang dr. Sjawitri.

Selain untuk vaksinasi, kunjungan bayi atau anak ke dokter secara berkala juga dianjurkan dengan sejumlah alasan, di antaranya untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan anak serta berkonsultasi tentang kondisi kesehatan anak.

Menurut Skyler Kalady, MD, dokter anak dari Cleveland Clinic, orang tua sebaiknya tetap memprioritaskan buah hatinya untuk melanjutkan jadwal vaksinasi meski memiliki kekhawatiran terhadap covid-19.

Oleh karena itu, layanan imunisasi dasar harus tetap diberikan di Puskesmas, praktik pribadi dokter, atau rumah sakit, sesuai jadwal. Pada wilayah dengan penularan luas Covid-19, jika tidak memungkinkan, rekomendasi IDAI untuk imunisasi dapat ditunda 1 bulan namun segera diberikan bila situasi memungkinkan.

Sementara itu, terkait pelaksanaan pembatasan sosial, IDAI mengajurkan:
* Anak sehat dan orang tuanya sebaiknya tidak keluar rumah, kecuali ada keperluan yang sangat penting, misalnya untuk imunisasi bayi dan balita.
* Di rumah, bayi tetap diberi ASI, makanan bergizi, menjauhi orang yang batuk-pilek, cuci tangan sebelum menyentuh bayi, jangan mencium bayi, dan segera berobat ke dokter bila sakit. (dys)