Pasang Alarm Denyut Jantung Agar Tak Kecolongan

Lari bareng komunitas. Foto: Dok.Panitia UGM Febulous Run
Lari bareng komunitas. Foto: dok.panitia UGM Febulous Run

sehatnews.id-Setiap ada berita seseorang meninggal saat berolahraga, ada keprihatinan dirasakan Dr. Michael Triangto, Sp.KO. Pemberitaan seperti itu bisa membuat masyarakat jadi makin enggan olahraga. Merasa sudah tua dan punya riwayat penyakit, mereka jadi semakin takut berolahraga.

“Kata kuncinya adalah siapa saja boleh olahraga asal mampu dan tidak melebihi batas-batas kemampuannya. Orang yang sehat pun bisa sakit jika melewati batas kemampuanya,” kata dokter ahli olahraga ini.

Batas kemampuan yang jadi acuan pun harus kemampuan saat ini. “Jangan kemampuan saat masih muda atau sebelum menjalani pemasangan ring di jantung. Jangan memaksakan diri,” sarannya.

Naik sepeda atau lari mendaki tanjakan tinggi memang menantang dan bikin jantung bekerja keras. “Waspadalah pada denyut jantung yang terlalu tinggi. Sebenarnya denyut jantung saat olahraga ini kan bisa dipantau dari smart watch yang dikenakan,” katanya.

Denyut jantung maksimal ini bisa diketahui dari rumus 220 dikurangi usia dalam tahun kemudian hasilnya dikalikan 80 persen.

Bila denyut jantung maksimal, sejatinya smart watch bisa membunyikan alarm. Dengan begitu pemakai jam pintar itu bisa menurunkan intensitas latihannya. “Latihan bisa diperlambat,” katanya.

Dr. Michael menyarankan agar ketika berolahraga bareng teman-teman atau komunitas, seseorang jangan terpancing mengikuti irama mereka yang lebih sehat dan berpengalaman. “Ikutlah kelompok pemula yang memiliki pendamping latihan. Dengan demikian kesehatan anggotanya bisa selalu terjaga,” katanya. (lin)