Dr. Novita Sabjan Beri Layanan yang Memanusiakan Manusia

dr. Novita Sabjan, MM, mengubah Puskesmas menjadi layanan kesehatan yang manusiawi./foto:dok.pri
dr. Novita Sabjan, MM., mengubah Puskesmas menjadi layanan kesehatan yang manusiawi./foto: dok.pri

sehatnews.id – Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan untuk masyarakat, Puskesmas memang seharusnya menyediakan layanan yang ramah. Namun beberapa tahun lalu banyak orang enggan ke Puskesmas karena kesannya cenderung negatif. Jorok, petugasnya judes, pelayanannya lama, dokternya tidak komunikatif.  

Kesan negatif itu juga dirasakan oleh dr. Novita Sabjan. Kala itu Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama banyak yang melayani seadanya. Maka ketika ia mendapat tugas di Puskesmas 1 Cilongok, Kabupaten Banyumas, ia berusaha mengubah mindset tersebut. Ia menjadikan Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan yang nyaman dan memanusiakan manusia. “Sebagaimana saya sendiri ingin dilayani ketika saya membutuhkan,”  ujar alumnus FK Universitas Islam Sultan Agung, Semarang ini.

Adanya Puskesmas yang memberikan pelayanan sesuai harapan pelanggan itu pun kian diminati dan dipilih masyarakat. Terbukti kepesertaan BPJS Mandiri yang terus bertambah dan lebih memilih PPK-nya di Puskesmas 1 Cilongok dibandingkan dengan Layanan Klinik Swasta.

Selain itu ia juga mewujudkan pelayanan ibu dan anak PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) sesuai standar dan responsif, agar dapat menurunkan Angka Kematian Ibu dan Anak di wilayah Banyumas.

Inovasi  tersebut mengantarkannya meraih penghargaan dari Kabupaten Banyumas sebagai Puskesmas Terbaik 1, tahun 2014. Tak cukup sampai di situ, upaya dr. Novita juga mendapat apresiasi dari USAID (United States Agency for International Development) sebagai Puskesmas dengan Outstanding Effort and Commitment as An Exemplary Health Facility in Improving High Quality Service to save lives of Mothers and Newborns  (2015). Penghargaan tersebut diberikan oleh Chief of Party EMAS-USAID dan Gubernur Jawa Tengah.  

Belum puas dengan inovasi tersebut, ia kemudian menginisiasi layanan cepat gratis yang dibutuhkan masyarakat dengan menyediakan akses Call Center. Dr. Novita juga menciptakan PSC (Public Safety Center) 119 Satria. Ini merupakan Sistem Aplikasi Terpadu Rujukan dan Informasi Ambulance Gawat Darurat, yang ia garap bersama timnya di bawah Dinas Kesehatan Kab. Banyumas. Dengan PSC 119 Satria akses warga terhadap layanan gawat darurat menjadi lebih mudah. Pasien yang dirujuk juga tidak mengalami ‘wisata rumah sakit’, karena ditangani secara tepat dan cepat.

“Alhamdulillah inovasi PSC 119 Satria masuk dalam top 99 Inovasi Pelayanan Publik pada tahun 2018,” tutur ibu dua putra dan satu putri ini.  

Motivator Terkuat

Membantu orang banyak, itulah niat yang memacu Novita untuk berusaha keras menggapai cita-cita menjadi dokter. Bungsu dari tujuh bersaudara ini mengaku berasal dari keluarga sederhana. Kedua orang tuanya tidak berpendidikan tinggi. “Bapak saya hanya tamat SD, Ibu malah tidak tamat SD, tapi merekalah motivator terkuat bagi saya,” ujar perempuan yang lahir di Pekalongan, 11 Januari 1973 ini.

Masa SD hingga SMA ia habiskan di kota kelahirannya. Setamat dari SMA Muhammadiyah Pekajangan ia melanjutkan pendidikan S1 dan profesi dokter di Unissula Semarang. Gelar S2 Magister Manajemen ia raih dari Universitas Soedirman Purwokerto.  

Banyumas rupanya menjadi ladang pengabdiannya. Novita menjalani tugas PTT di  Puskesmas Sumbang 1 Kabupaten Banyumas. Ia pernah menjabat Kepala Puskesmas Cilongok 1, pernah juga bertugas di Dinas Kesehatan, dan menjadi dokter Mitra Jamsostek selama 12 tahun. Saat ini dr. Novita menjabat Kepala Bidang Keperawatan RSUD Banyumas.

Berbaur dan menjadi bagian dari masyarakat tempat ia bertugas menjadi hal penting bagi Novita. Dari kedekatan itu ia bisa tahu apa yang sebetulnya dibutuhkan masyarakat, sehingga bisa melakukan tindakan yang tepat. “Selain tentu ilmu di bidang kedokteran, seorang dokter dituntut untuk berbaur dengan masyarakat,” kata istri dr. Setyo Budiantoro, MM ini.

Kedekatan itu membuat sesuatu yang semula menjadi hambatan bisa lebih cepat teratasi. Ketika pertama kali bertugas di Banyumas yang kental dengan bahasa ngapak, ia sempat dibuat bingung. Padahal kemampua memahami bahasa lokal sangat berpengaruh untuk menghimpun informasi dalam menegakkan diagnosa. “Setiap ada kosa kata yang saya tidak ketahui, saya selalu bertanya kepada teman-teman dan orang-orang di sekitar saya. Alhamdulillah mereka semua baik, mau membantau saya,” kisahnya.

Selama kiprahnya sebagai dokter berbagai penghargaan ia raih, sebut saja Nakes Teladan Kabupaten Banyumas tahun 2012 dan 2014, Nakes Teladan Provinsi Jawa Tengah tahun 2015, 10 Besar Inovasi Pelayanan Publik Kab.Banyumas (2017), dan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik (2018).

Sudah banyak yang dilakukan dr.Novita, tetapi ia merasa belum cukup. Ia ingin terus mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih baik, dengan spirit ‘nguwongke wong’, memanusiakan manusia. (rin)