Belajar Yoga Langsung dari Sang Mahaguru

Geetaji mengajar Yoganusasanam tahun 2014. Pencinta yoga dari berbagai negara mengikuti kelasnya./foto: istimewa
Geetaji mengajar Yoganusasanam tahun 2014. Pencinta yoga dari berbagai negara mengikuti kelasnya./foto: istimewa

sehatnews.id – Meski sudah beberapa tahun belajar yoga, boleh dibilang India tidak dalam negara yang ingin dikunjungi Yusni Irene. Rekomendasi dari seorang guru yoga senior dari Belanda membawanya terbang ke Pune, India. Dari hanya berencana pergi sekali saja, hingga saat ini ia sudah 14 kali bolak-balik pergi ke Pune demi memperdalam yoga.

Yusni sempat memperdalam ilmu yoga pada guru asal Belanda, Cle Souren. Dan Cle pernah belajar yoga langsung dari BKS Iyengar. Berbekal rekomendasi dari Cle, guru yoga di Jakarta ini berangkat ke Pune untuk mengikuti kelas di Ramamani Iyengar Memorial Yoga Institute (RIMYI).

Geeta Iyengar di hari ulang tahun terakhir. Foto istimewa

“Tiga belas tahun lalu formulir aplikasi visa turis ke India itu panjang dan berlembar-lembar, tidak kalah sama film dan lagu India. Sempat ada rasa enggan untuk belajar langsung dari para master di Pune,” kisah perempuan yang sempat rutin menggelar workshop yoga di Jakarta ini.

Kunjungan ke Pune itu terjadi setelah ia mengikuti ujian yoga yang menguras tenaga dan pikiran di Auckland, Selandia Baru. “Karena berdekatan dengan ujian di Selandia Baru, tiket saya atur supaya tidak mahal. Saya bikin jadwal jalan-jalan keliling Pune sebelum kelas dimulai. Sekalian istirahat setelah ujian,” kenangnya.

Ia tiba di Pune seminggu sebelum kelas dimulai. Di RIMYI ia mendaftar untuk ikut kelas. “Kebiasaannya demi menghemat waktu dan biaya, murid datang sehari sebelum kelas dimulai di awal bulan. Biaya untuk murid asing dalam mata uang dolar dan dibayar penuh untuk satu bulan kendati si murid hanya belajar 2-3 minggu saja. Baru lima tahun terakhir peraturan diubah, murid bisa bayar untuk dua minggu pelajaran saja,” katanya.

Yusni sempat bertekad hanya datang sekali ke Pune. Oleh karena itu di awal saat jalan-jalan ia memborong banyak oleh-oleh. Kopernya penuh dengan kain sari dan makanan khas setempat. Ia juga membeli banyak DVD yang dijual di RIMYI.

Niat untuk sekali saja datang ke Pune berubah ketika ia mengikuti kelas yang dipimpin oleh almarhum BKS Iyengar (1918-2014) dan puterinya, Geeta Iyengar. “Kepala seperti dibombardir banyak informasi penting. Cara mengajar mereka memang keras penuh dengan teriakan tapi tidak menyurutkan niat untuk datang dan datang lagi,” kata Yusni.

BKS Iyengar saat itu sudah sangat sepuh dan pensiun. “Guruji mengajar dari pojok ruangan. Begitu juga dengan Gitaji. Ji adalah panggilan penghormatan di India. Entah berapa lama lagi bisa berada dalam satu ruangan bersama beliau berdua,” ujarnya.

Tak pernah terpikir ketika itu bahwa kelak dirinya bakal 14 kali terbang ke Pune demi belajar yoga. “Tak disangka lagi, saya juga pas berada di sana ketika Guruji meninggal dunia pada 2014. Saya pun bisa hadir saat beliau dikremasi. Saya juga sedang ada di Pune ketika Gitaji meninggal setelah mengajar Yoganusasanam pada 2018,” tuturnya. (lin)