Sambiloto Mampu Menangkap Corona?

Sambiloto dapat dikonsumsi sebagai minuman teh dengan cara direbus, diseduh, atau dalam bentuk kapsul./foto: rin
Sambiloto dapat dikonsumsi sebagai minuman teh dengan cara direbus, diseduh, atau dalam bentuk kapsul./foto: rin

sehatnews.id – Herba sambiloto (Andropraphis ┬ápaniculata) kini tengah naik daun karena dipercaya dapat menangkap virus corona. Pemerintah Thailand bahkan secara resmi telah menyetujui studi kelayakan penggunaan sambiloto sebagai obat herbal untuk mengobati gejala awal Covid-19 dan mengurangi keparahan.

Menurut laporan HerbalGram, pengobatan dengan sambiloto tersedia di lima rumah sakit pemerintah di Thailand. Herbal ini diberikan kepada 12 pasien relawan berusia 18-60 tahun dengan gejala ringan. Pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan menunjukkan gejala ringan sampai sedang dalam 72 jam diberi kapsul berisi ekstrak sambiloto 60-100 gram tiga kali sehari.

Hasilnya, pada dosis rendah sambiloto mampu meredakan batuk. Dalam tiga hari volume batuk dan keparahan gejala secara umum menurun signifikan. Dalam lima hari gejala lain mereda dan tes PCR real time menunjukkan negatif Covid-19 pada 2 orang pasien. Setelah 3 minggu tes PCR negatif pada 6 pasien. Pihak berwenang mengklaim sambiloto dapat digunakan sebagai obat alternatif yang aman, efektif, dan murah, terutama untuk mengurangi peradangan.

Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand secara resmi memasukkan herbal yang disebut Fah Talai Jone ini ke dalam daftar nasional obat-obatan esensial atau daftar produk obat herbal. Masyarakat Thailand biasa menggunakan sambiloto untuk obat diare, demam, infeksi virus, dan flu.

Di Indonesia belum ada dasar yang kuat untuk pemerintah mengeluarkan izin resmi. Namun penggunaan sambiloto sebagai penawar penyakit sudah menjadi tradisi di masyarakat sejak zaman baheula. Banyak jenis jamu tradisional yang berisi sambiloto sebagai salah satu bahan dasarnya. Rasa sambiloto memang pahit, tetapi khasiatnya sungguh menyehatkan.

Efek Antivirus

Sebetulnya riset sambiloto telah banyak dilakukan, tetapi memang masih memerlukan riset tahap lanjutan. Suatu studi menyatakan, efek positif sambiloto untuk menangani infeksi saluran pernapasan atas akut dan juga meredakan gejala peradangan pada sinusitis. Studi buta ganda (double blind) efek Andrographis paniculata nees ini dibandingkan dengan kontrol plasebo. Total skor perbaikan yang signifikan terjadi pada grup sambiloto. Dinyatakan sakit kepala, gejala pada tenggorokan dan hidung membaik, tetapi gejala pada mata dan batuk tidak begitu nyata perbedaannya. Studi juga memperlihatkan kemampuan sambiloto dalam mengurangi keparahan gejala dan waktu terjadinya flu.

Studi lain menggunakan ekstrak sambiloto yang mengandung minimal 10 persen andrografolid (senyawa aktif utama dalam sambiloto) menunjukkan khasiat untuk peradangan, kadar gula darah, fungsi imun, fungsi hati, dan menyehatkan sistem kardiovaskuler.

Sambiloto sebagai imunomodulator dapat memodifikasi respon imun, sebagai imunostimulan dapat merangsang mekanisme pertahanan alamiah dan adaptif, sehingga dapat mengembalikan keseimbangan sistem imun tubuh yang terganggu, dan sebagai imunosupresan akan menekan respon imun yang berlebih sehingga mampu meredakan hiperinflamasi.

Menurut penelitian yang dimuat dalam Medical Journal of Lampung University sambiloto mengandung orthosiphon glukosa, minyak atsiri, saponin, polifenol, flavonoid, sapofonin, garam kalium, dan myonositol. Beberapa zat ini memiliki kemampuan menurunkan kadar glukosa darah.

Andrografolid menurut suatu studi, efektif untuk  melawan beragam virus, seperti influenza A, hepatitis B dan C, chikungunya, HIV, herpes simplex, Epstein-Barr, dan human papilloma. Kemampuan antivirus inilah yang membuat sambiloto berpotensi melawan SARS-CoV 2, dengan cara mengikat enzim protease dari virus corona.

Komponen andrografolid juga bersifat antikanker, antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, antihipertensi, antihepatitis, antimikroba, antimalaria, antirematik, dan antiprotozoa. Bahkan dapat menangkal pikun dan melindungi jantung.

Saat ini telah banyak beredar produk kapsul yang berisi ekstrak sambiloto. Kapsul ini dipercaya dapat membantu mencegah Covid-19 maupun membantu penyembuhan pasien Covid-19. Untuk pencegahan, dianjurkan mengonsumsi 2 kapsul sekali minum. Waktu terbaik mengonsumsi kapsul sambiloto yakni setelah mendapatkan risiko terpapar, misalnya setelah beraktivitas di luar rumah. Bagi pasien Covid-19 dapat mengonsumsi kapsul ini setiap 4 jam, 2 kapsul sekali minum. Tentu lebih baik membeli kapsul ekstrak sambiloto yang sudah mendapat izin edar dari BPOM.

Meski sudah mengonsumsi sambiloto alangkah baiknya tetap menjalani vaksinasi dan menerapkan protokol kesehatan 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas). Ini penting karena sambiloto titik tangkapnya ke enzim protease virus corona, ssedangkan vaksin bertugas membangun imunitas atau membantu antibodi dalam tubuh agar dapat membunuh virus yang masuk. (rin)