Pelajaran dari Pandemi 1918

Para pelajar di Jepang pada sekitar tahun 1920 patuh memakai masker untuk menangkal penularan flu Spanyol./foto: bbc.com
Para pelajar di Jepang pada sekitar tahun 1920 patuh memakai masker untuk menangkal penularan flu Spanyol./foto: bbc.com

sehatnews.id – Sekitar seabad lalu dunia mengalami pandemi flu Spanyol. Gara-gara penyakit itu 25 juta orang meninggal dunia. Kejadian itu kira-kira serupa dengan pandemi Covid-19 yang kini tengah melanda dunia.

Dibandingkan dengan seratus tahun lalu, populasi dunia saat ini jumlahnya empat kali lipat lebih banyak. Profesor dari UCLA, Jared Diamond dalam sebuah wawancara dengan koran Jepang, Yomiuri Shimbun mengatakan, globalisasi menyebabkan percepatan penyebaran infeksi. Perkiraan Diamond, kematian karena Covid-19 lebih banyak daripada kematian akibat flu Spanyol.

Apa bedanya pandemi saat ini dan seabad lalu? Hayami Akira dalam buku yang diterbitkan tahun 2006, The Influenza Pandemic in Japan, 1918-1920: The Frist World War between Humankind and a Virus mengulik kembali pandemi seabad silam.

Di bulan-bulan terakhir Perang Dunia I pada Maret 1918 infeksi influenza jenis baru merebak di markas tentara Amerika Serikat di Kansas. Setahun sebelumnya Presiden Woodrow Wilson memutuskan Amerika ikut perang sehingga menyebabkan virus influenza tersebut menumpang naik kapal ke Eropa.

Barak tentara ternyata merupakan tempat ideal untuk penyebaran penyakit berhubung para prajurit tidur berdesakan mirip sarden, dan perintah diteriakkan dengan suara sangat keras yang tentunya bikin ludah muncrat ke mana-mana.

Serangan infeksi gelombang pertama terjadi pada 1918 di musim semi dan awal musim panas. Gejalanya ringan saja sehingga tak diobati dengan serius. Serangan gelombang kedua berlangsung di musim panas. Kali ini virus sudah bermutasi dan menyerang dengan ganas.

Saat itu ada banyak kasus orang usia 20an dan 40an tahun dengan kondisi kesehatan yang baik tiba-tiba mengembuskan napas terakhir, setelah dua hari mengalami gejala.

Setelah menular di antara para serdadu, virus kemudian menjalar ke kota pelabuhan di kota-kota utama di Eropa menuju seluruh dunia. Kematian di Amerika Utara tercatat 600.000 jiwa, di Eropa sebanyak 2,3 juta, di India 12,5 juta, di Indonesia 1,5 juta, dan di Jepang sekitar 390.000 jiwa.

Virus flu Spanyol menyebar ke Jepang agak belakangan. Pada Mei 1918 sekelompok pegulat sumo mengadakan tur ke Taiwan. Mereka terinfeksi. Kemudian dilaporkan beberapa kasus di Yokohama yang berasal dari kapal militer di Pelabuhan Yokosuka. Namun saat itu Jepang berhasil dengan efektif menghindari serangan infeksi gelombang pertama.

Kemudian terjadi serangan gelombang kedua yang memuncak di November 1918 dan Januari 1920. Selama 1919 virus influenza itu menyebar ke seluruh Negeri Sakura dan menyebabkan kematian 388.000 orang. Angka itu dikumpulkan oleh Kementerian Dalam Negeri yang mengawasi kepolisian dan departemen kesehatan.

Seabad yang lalu Pemerintah Jepang pun mengimbau masyarakat agar menghindari orang yang bersin, selalu mencuci tangan, berkumur, dan menutup sebagian wajah dengan masker.

Mungkin karena protokol kesehatan seperti mencuci tangan dan memakai masker itulah yang membuat Jepang bisa dibilang lebih berhasil mengatasi pandemi kala itu, sehingga jumlah korban jiwa tidak sebanyak negara lain.

Saat ini pun imbauan masih kurang lebih sama. Tetapi masih saja ada masyarakat yang bandel melanggar imbauan tersebut. (lin)